Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Dzikir dengan Alat Bantu Tasbih

 DZIKIR DENGAN ALAT TASBIH 


a. Hukum awal menghitung tasbih menggunakan jari jemari 

Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata, 

قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, “Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (menyucikan Allah), dan hitunglah dengan ujung jari-jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara (pada hari kiamat), janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.” (HR. Tirmidzi, no. 3583 dan Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan dishahihkan oleh Imam Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir) 

b. Bertasbih dengan alat tasbih atau alat hitung lain nya 

وَعَنْ سَعْدٍ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوىً – أَوْ حَصَىً – تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ : (( أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا – أَوْ أفْضَلُ – )) فَقَالَ : (( سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَسُبحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ ، وَاللهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَالحَمْدُ للهِ مِثْلَ ذَلِكَ ؛ وَلاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ مِثْلَ ذَلِكَ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) . 

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat seorang wanita dan di hadapannya ada beberapa biji atau beberapa kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbihnya. Beliau pun bersabda, “Tidakkah engkau suka kalau aku beritahukan padamu tentang sesuatu yang lebih mudah untukmu daripada ini—atau lebih utama–?” Selanjutnya beliau bersabda, “Yaitu Mahasuci Allah sebanyak hitungan yang diciptakan oleh-Nya di langit. Mahasuci Allah sebanyak hitungan yang diciptakan oleh-Nya di bumi. Mahasuci Allah sebanyak hitungan yang ada di antara langit dan bumi. Mahasuci Allah sebanyak ciptaan-Nya Yang Dia ciptakan. Allah Mahabesar seperti itu, segala puji hanya bagi Allah seperti itu, tiada Ilah kecuali Allah seperti itu, dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah seperti itu pula.” (HR. Tirmidzi, ia menyatakan bahwa hadits ini hasan) [HR. Tirmidzi, no. 3568 dan Abu Daud, no. 1500. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa hadits ini dha’if dalam Bahjah An-Nazhirin, 2:463] 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membagi hukum tasbih sebagai berikut: 

1- Jika ada kebutuhan untuk menggunakan biji tasbih, maka dibolehkan. 

2- Jika untuk memamerkan amalan dan agar disebut orang yang  rajin dzikir dengan memamerkan biji tasbih sambil mengalungkan atau memakai gelang di tangan, maka seperti itu diharamkan dan termasuk dalam perbuatan riya’. 


Catatan : 


1.  berdzikir menggunakan tasbih merupakan cara yang tidak disukai generasi salaf, berdasarkan Atsar berikut : 

- Atsar Aisyah, yaitu ketika melihat seorang wanita dari Bani Kulaib yang menghitung dzikirnya dengan bijian. Aisyah berkata,”Mana jarimu?” 

- Atsar Abdullah bin Mas’ud, dari Ibrahim berkata: 

كَانَ عَبْدُ اللهِ يَكْرَهُ العَدَّ وَيَقُوْلُ أَيَمُنُّ عَلَى اللهِ حَسَنَاتِهِ 

Abdullah bin Mas’ud membenci hitungan (dengan tasbih) dan berkata,”Apakah mereka menyebut-nyebut kebaikannya di hadaan Allah 

2. Berzikir dengan tasbih ulama banjàr menekan lebih kepada tadabur makna dzikir sehingga fokus nya bukan pada jumlah 

3. Lebih utama menggunakan jari dari pada alat karena Rasul dan Sahabat lebih menekan kepada hal demikian, hadits riwayat menggunakan jari derajat nya banyak di dhoifkan ulama


Referensi :

rumaysho.com/17269-dalil-bolehnya-berdzikir-dengan-biji-tasbih.html


Read More

Sholat Sunnah Rawatib

 Sholat sunnah Rawatib 


A. Sholat sunnah Muakad 


Shalat sunnah rawatib ada 12 rakaat: 


• 4 rakaat sebelum dzuhur dengan 2 salam, 

• 2 rakaat setelahnya dengan sekali salam, 

• 2 rakaat setelah maghrib dengan 1 salam, 

• 2 rakaat setelah isya dengan 1 salam, 

• 2 rakaat sebelum shubuh dengan 1 salam. 


Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam selalu menjaga ke-12 rakaat tersebut ketika beliau sedang tidak bepergian. Beliau bersabda, 

من صلى ثنتي عشرة ركعة تطوعا في اليوم والليلة ، بني له بهن بيت في الجنة 

“barangsiapa yang shalat sunnah 12 rakaat dalam sehari semalam, Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim no. 728).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ 

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) 

Sholat rawatib juga bisa dikerjakan dengan jumlah 10 Rakaat 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, 

حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ 

“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah ‘Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 1180)


B. Keutamaan sholat Rawatib Ghoiru Muaakad 

- Sholat Sunnah Rawatib 4 Rakaat Sebelum Sholat Dzuhur dengan 2 Salam dan Sholat 4 rakaat sesudah Sholat Dzuhur 4 Rakaat dengan 2 salam 

من حافظ على أربع قبل الظهر وأربع بعدها حرمه الله على النار 

“barangsiapa yang shalat 4 rakaat sebelum dan sesudah dzuhur, maka Allah mengaharamkan neraka untuknya” (HR. Tirmidzi no. 428, Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816). 

- 4 Rakaat Sholat Sunnah Qobliah Asar dengan 2 salam 

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam, 

رحم الله امرأ صلى قبل العصر أربعا 

“Allah akan merahmati urusan seseorang bila ia shalat 4 rakaat sebelum shalat ashar”. ( HR. Ahmad, tirmidzi, dan laib nya dari Ibnu Umar Radiyallahu’anhuma ) 

- Sholat sunnah 2 Rakaat antara Azan dan Iqomah 

Rasulallah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, 

بين كل أذانين صلاة ، بين كل أذانين صلاة” وقال في الثالثة : “لمن شاء 

“di setiap 2 adzan terdapat shalat, di setiap 2 adzan terdapat shalat, beliau berkata yang ketiga kalinya: bagi siapa yang menginginkan untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari no. 627, Muslim no. 828). 

- Sholat Sunnah Qobliah Maghrib 

صلوا قبل المغرب ، صلوا قبل المغرب” ثم قال : “لمن شاء 

“shalatlah kalian sebelum maghrib, shalatlah kalian sebelum maghrib, beliau berkata yang ketiga kalinya: bagi siapa yang menginginkan untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari nol 1183). 


C. Keutamaan Sholat Rawatib / Thatawwu sebagai pelengkap dari kekurangan sholat Fardhu 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ   

Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb k berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. [HR at-Tirmidzi]


Sumber: 

https://muslim.or.id/27304-shalat-sunnah-rawatib.html

https://rumaysho.com/23169-manhajus-salikin-10-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dalam-sehari.html

https://almanhaj.or.id/23457-menggemarkan-shalat-sunnah-rawatib-2.html

Read More

Video Bekal Itikaf Ramadhan di masjid Haram

 Mengenal kondisi masjid Haram


Manajemen waktu itikaf


Mencari tempat itikaf




Wudhu didalam masjid haram 



Bekal Umroh 



Read More

Fiqih umrah

 


Pakai baju ihram





Pakai baju ihram sesuai sunnah


Tata cara umrah


Ilmu manasik umrah


Praktek manasik ustadz Firanda



Read More

Mau ibadah juga tapi masih sibuk


Alhamdulillah dan sholawat serta salam untuk junjungan nabi kita Rasulullah Muhammad shollahu alaihi wasalam 

Sahabat sekalian bahwa nya Kita diciptakan tujuan nya untuk mengabdi kepada Allah Azzawajalla untuk memudahkan tugas dan tujuan tersebut maka Allah sediakan segala fasilitas dimuka bumi ini, maka dari kita bisa menggunakan nya sesuai dengan kapasitas keilmuan dan keahlian yang kita kuasai 

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا 

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya ( QS. Al-Kahfi ayat 7 ) 


Setelah kita mengetahui bahwa segala yang kita dapatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah maka jangan sampai kita terlena dengan sarana yang Allah sediakan tersebut, karena banyak yang terlena yaa. 🙂  sehingga bagi kita yang terlena maka Allah SWT ingatkan pula dengan Firman nya yang mulia 


مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 


Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. ( QS. Hûd ayat : 15-16 ) 


Nah... sahabat 

Sangat disayangkan yang kita usahakan demi Anak, Istri tercinta tidak ternilai disisi Tuhan kita yang mulia. Oleh karena itu perlu membina hati dan niat kita  agar apa yang kita usahan semata mata untuk Akherat kita agar dimudahkan dan diberkahi, karena usaha yang kita lakukan juga harus bernilai ibadah, karena sebagian dari kita mendapatkan keutamaan dan Ridha Allah Azza wajalla dengan keutamaan yang diamanahkan ada yang lewat berkerja,  ada juga dengan wasilah beribadah, ada juga dengan berdakwah selama dalam ranah ketaatan maka akan mendapatkan nilai ibadah 


اِنَّ رَبَّكَ يَعۡلَمُ اَنَّكَ تَقُوۡمُ اَدۡنىٰ مِنۡ ثُلُثَىِ الَّيۡلِ وَ نِصۡفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَآٮِٕفَةٌ مِّنَ الَّذِيۡنَ مَعَكَ‌ؕ وَاللّٰهُ يُقَدِّرُ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ‌ؕ عَلِمَ اَنۡ لَّنۡ تُحۡصُوۡهُ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ‌ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ‌ؕ عَلِمَ اَنۡ سَيَكُوۡنُ مِنۡكُمۡ مَّرۡضٰى‌ۙ وَاٰخَرُوۡنَ يَضۡرِبُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ يَبۡتَغُوۡنَ مِنۡ فَضۡلِ اللّٰهِ‌ۙ وَاٰخَرُوۡنَ يُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ ۖ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَيَسَّرَ مِنۡهُ‌ ۙ وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقۡرِضُوا اللّٰهَ قَرۡضًا حَسَنًا‌ ؕ وَمَا تُقَدِّمُوۡا لِاَنۡفُسِكُمۡ مِّنۡ خَيۡرٍ تَجِدُوۡهُ عِنۡدَ اللّٰهِ هُوَ خَيۡرًا وَّاَعۡظَمَ اَجۡرًا‌ ؕ وَاسۡتَغۡفِرُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ 


Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. Al Muzammil : 20 ) 


Jadi apa pun yang kita usahan jangan lupa diniatkan dalam rangka ibadah hasil nya sebagian kita sisihkan untuk ibadah dengan Harta tersebut. 


Maka jangan heran  sekira nya usaha atau job yang kita dapatkan banyak sehingga  menghasilkan pundi pundi keuntungan yang banyak, setelah dikalkulasikan segitu segitu saja hasil nya atau kerja pagi siang sore namub tidak juga mencukupi kebutuhan hidup nya apa lagi sampai kebutuhan ibadah nya tidak terpenuhi maka segera muhasabah diri bisa jadi karena kita  sudah menyimpang dari track yang benar /  lari dari jalan sunnah yang telah dijalan Rasulullah SAW , beliau yang mulia juga sudah ingatkan 


Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 


مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. 


Artinya : Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” ( HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Albaihaqi ) 


Sekiranya kita telah terkumpul dalam kecintaan kepada sang banginda Rasulullah tentu kita akan mengumpulkan berbagai ketaatan mengikuti sunnah nya dan tidak membenci setiap syariat sunnah nya, karena membeci nya akan mendapatkan peringan yang keras 


فمن رغب عن سنتي فليس مني 


Artinya : “Maka barangsiapa membenci sunnahku, maka dia itu bukan dari golonganku ” (HR. Al Bukhory, Muslim 


Demikian juga jangan sampai terlintas dalam diri kita untuk menselisihi nya atau menolak, menghindar, semua ketetapan yang sudah Allah azzawajalla dan Rasulullah Shallahu alaihi wasalam jalankan, apa lagi memilah sesuai yang enak enak. Awas terkena ancaman dari beliau Shallahu alaihi wassalam 


عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: صَنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا تَرَخَّصَ فِيهِ وَتَنَزَّهَ عَنْهُ قَوْمٌ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: 

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُونَ عَنْ الشَّيْءِ أَصْنَعُهُ، فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً. 


Artinya : Dari Aisyah ra bahwa ada sejumlah orang menghindar dan menjauhkan diri dari beberapa perkara yang telah dikerjakan Rasulullah SAW. Sampailah berita itu kepada beliau. Lalu beliau pun mengucapkan puja dan puji kepada Allah SWT, kemudian berkata 

Bagaimana hal nya kaum-kaum yang menjauhkan diri dari sesuatu yang ku lakukan.? Demi Allah, aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut kepada Nya ( HR. Bukhori dan Muslim ) 


Yukss sahabat semua bagi yang dimudahkan dalam harta sisihkan sebagian rizki yang didapa dengan sedekah, infaq, ikut serta dalam menunjang dan mendukung kegiataj pendidikan dan dakwah islam yang mulia, terutama Haji dan umrah harus ya 🙂

Yang menjadi pokok asas Rukun islam 5 Perkara wajib tertunaikan karena masih banyak dari sahabat semua yang berkeinginan menunaikan namun terkendala dari kemampuan harta nya.  Jadi sahabat bisa memulai dari sesuatu yang diamanahkan jangan sampai menyesal ketika sudah tidak ada waktu / umur hqbis baru mau menjalankan 

Aduhh.... ❗❗  masa itu telah telat seperti yang dikabarkan Allah dalam firman 


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ 


Artinya : Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" ( QS. Almunafiqun ayat : 10 ) 

Sahabat sekalian jangan sampai peringatan dari Alquran dan sunnah ini membuat kita lalai karena ada sebagian juga yang lalai dan tak menghiraukan, sungguh menyesal banget. 


قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ 


Artinya : Mereka menjawab, “Pernah! Sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(-nya) dan mengatakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.’” (Para malaikat berkata,) “Kamu tidak lain hanyalah (berada) dalam kesesatan yang besar.” Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala). Mereka mengakui dosanya (saat penyesalan tidak lagi bermanfaat). Maka, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala) itu. ( QS. Almulk ayat : 9 - 11 )

Sahabat yang senantiasa dirahmati Allah azzawajalla 

Semoga catatan kecil ini bisa menjadi pegangan kita untuk muhasabah menjadi lebih baik lagi, Salam dari sahabat, kang ahya

Semoga Allah memberkahi sobat semu keluarga dan harta harta nya , aamiin 🙂

Read More

Doa berlindung dari Fitnah

 




































Read More

Hati hati penipuan beli property

 Sahabat kang ahya berhati hati terhadap transaksi jarak jauh apa lagi dengan nominal yang besar, sebagai contoh peristiwa berikut yg kami alami.

Berawal dari pesan via WhatsApp ketertarikan calon pembeli terhadap produk yang tim pasarkan. Dari komunikasi via telp dan chat tersebut ada hal yang dicurigai, berikut chat yang bisa didokumentasikan

1. Calon buyer mudah minat dan tertarik dengan property yang kita tawarkan, tanpa janjian untuk cek unit nya, 

Sudah menjadi hal yang lumrah jika property harus di cek terlebih dahulu mengingat nominal transaksi juga besar

2. Selaku pemilik Asset property jangan mudah percaya dengan resi transfer bukti kirim uang tertentu sebagai pembayaran tanda jadi atau semisal nya sebelum benar benar kita periksa diakun bank milik kita sendiri

3. Senantiasa minta bukti data diri untuk kita cocokan data dengan resi berfungsi juga sebagai persiapan berkas nanti nya untuk di notaris

4. Dari komunikasi ngalor ngidul sepakat tanda jadi 10 juta agar calon pembeli lain tidak bisa menawar asset yang sedang kita pasarkan, ternyata resi nya pengiriman tanda jadi dengan nominal yang lebih besar dalam kasus ini 45 juta, ada hal mencurigakan

5. Tidak lama berselang suami mengkonfirmasi istri salah transfer dengan nominal lebih dan meminta tolong agar kelebihan di transfer balik

Berikut lampiran semoga bisa menjadi kehati-hatian

Disclimer : identitas NIK KTP bisa milik orang lain dengan modifikasi data lain nya, Foto profile bisa jadi milik orang lain yg disalah gunakan untuk menipu

Selaku suami : 






Pelaku istri  :




Resi kirim




Read More

Mengenal Dakwah Hizbi

 


Makna hizbiyyah


Al hizb secara bahasa artinya sekelompok manusia. Dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan:

الحِزْبُ: جَماعةُ الناسِ، والجمع أَحْزابٌ

Al hizb artinya sekelompok manusia, jamaknya: ahzaab

Secara istilah, al hizb memiliki beberapa makna:

• An nashir, artinya penolong; pembela. Sebagaimana dalam ayat:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

barangsiapa loyal kepada Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman (adalah para wali Allah). Sesungguhnya hizbullah itu adalah orang-orang yang menang” (QS. Al Maidah: 55).
Ath Thabari dalam Tafsirnya mengatakan:

ويعني بقوله:”فإن حزب الله”، فإن أنصار الله

“yang dimaksudkan dalam firmannya ‘Sesungguhnya hizbullah itu…‘ adalah ‘sesungguhnya para pembela Allah itu…‘” (Tafsir Ath Thabari, 10/428)

• Al fariq; al firqah, artinya kelompok agama; sekte; aliran. Sebagaimana dalam ayat:

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS. Al Mu’minun: 53).

Ath Thabari dalam Tafsirnya mengatakan:

وقوله: (كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ) يقول: كل فريق من تلك الأمم، بما اختاروه لأنفسهم من الدين والكتب، فرحون معجبون به، لا يرون أن الحقّ سواه.

“firman Allah ‘Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka’ artinya setiap kelompok agama dari umat tersebut merasa bangga dan ujub dengan agama dan kitab yang mereka pilih. Mereka tidak melihat bahwa kebenaran bisa jadi dari selain mereka” (Tafsir Ath Thabari, 19/42).

• Al Jundu wal atba’ wal ash-hab, artinya tentara atau pengikut atau golongan. Sebagaimana dalam ayat:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi” (QS. Al Mujadalah: 19).

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan:

أولئك حزب الشيطان” أتباعه”

“‘mereka itulah hizbus syaitan’ maksudnya: pengikut setan”

• Al wali, artinya wali yaitu orang yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang. Sebagaimana dalam ayat:

أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ

Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah hizbullah” (QS. Al Mujadalah: 22).

Ath Thabari menjelaskan:

(أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ) يقول: أولئك الذين هذه صفتهم جند الله وأولياؤه

“‘Mereka itulah hizbullah‘ maksudnya mereka adalah orang-orang yang demikian sifatnya, mereka itu tentara Allah dan wali Allah” (Tafsir Ath Thabari, 23/258) [1. Banyak mengambil faedah dari Ta’riful Hizbiyyah, Ahmad bin Hadi bin Hamdani, http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=52333].

• Kelompok yang berfanatik golongan yang memerangi kebenaran. Sebagaimana dalam ayat:

يا قوم إني أخاف عليكم مثل يوم الأحزاب

Dan orang yang beriman itu berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran ahzab’” (QS. Al Mu’min: 30).

Dalam Lisaanul Arab disebutkan:

والأَحْزابُ: جُنودُ الكُفَّار، تأَلَّبوا وتظاهروا على حِزبْ النبيّ، صلى اللّه عليه وسلم، وهم: قريش وغطفان وبنو قريظة

Ahzab adalah pasukan kuffar yang menentang pengikut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu kaum Quraisy, Ghathafan dan Bani Quraizhah”

Ibnu Sayyidihi mengatakan:

الأحزاب هاهنا قوم نوح، وعاد، وثمود، ومن أهلك بعدهم

“ahzab dalam ayat ini adalah kaum Nuh, kaum Ad, kaum Tsamud dan kaum-kaum yang binasa setelah mereka” (Al Muhkam wal Muhith Al A’zham, 3/231).

Syaikh As Sa’di mengatakan:

الأحْزَابِ يعني الأمم المكذبين، الذين تحزبوا على أنبيائهم، واجتمعوا على معارضتهم

Al ahzab yaitu kaum yang mendustakan kebenaran, mereka berkelompok-kelompok menentang dan melawan Nabi mereka” (Taisir Karimirrahman, 736).

Makna yang terakhir inilah yang kita maksudkan dalam pembahasan kita ini. Maka hizbiyyah adalah sikap ta’ashub (fanatik golongan) seseorang terhadap suatu tokoh, atau terhadap kelompoknya, atau golongannya, dalam akidah, pemikiran dan perbuatan mereka yang bertentangan dengan kebenaran.

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali mengatakan: “setiap yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah ahzab yang sesat. Hizbiyyah tidak ada persyaratannya. Allah menamai umat terdahulu sebagai ahzab dan menamai kaum Quraisy sebagai ahzab karena mereka berkumpul bersama dengan yang sepaham dengan mereka untuk menentang Rasulullah. Padahal mereka tidak memiliki organisasi atau apapun. Maka adanya organisasi bukanlah syarat dari hizbiyyah. Jika hizb tersebut diatur oleh sebuah organisasi maka lebih bertambah lagi hizbiyyah-nya. Fanatik kepada suatu pemikiran tertentu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, lalu loyal dan saling mencintai karena pemikiran tersebut, inilah yang disebut tahazzub (hizbiyyah). Inilah tahazzub walaupun tidak terorganisir. Membangun suatu pemikiran yang menyimpang lalu mengumpulkan manusia dalam pemikiran tersebut, inilah hizbiyyah, baik terorganisir ataupun tidak. Selama mereka berada dalam satu pemikiran yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, inilah hizbiyyah” [2. Sumber: http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=283].

Syaikh Yahya Al Hajuri menjelaskan: “Hizbiyyah adalah orang-orang yang cakupan wala wal bara’-nya sempit. Terbatas hanya pada orang-orang yang bersama mereka saja, tanpa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Hizbiyyun adalah setiap yang menentang Ahlussunnah. Setiap yang menentang Ahlussunnah maka pada dirinya, sesuai penyimpangannya, terdapat kadar bid’ah dan kadar hizbiyyah” [3. http://www.sh-yahia.net/show_s_fatawa_113.html].

Sikap kita: Jauhilah hizbiyyah!

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan: “wajib bagi para penuntut ilmu agar melepaskan diri dari bergolong-golongan dan juga hizbiyyah yaitu mengikat wala dan bara‘ kepada suatu kelompok tertentu atau aliran tertentu. Tidak diragukan lagi bahwa hizbiyyah bertentangan dengan manhaj salaf. Salafus shalih tidak ada beberapa kelompok, melainkan mereka hanya 1 kelompok saja. Di bawah naungan firman Allah ‘azza wa jalla:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Allah lah yang menamakan kalian sebagai Muslimin dari dahulu” (QS. Al Hajj: 78)

Tidak ada hizbiyyah dan tidak ada berkelompok-kelompok. Tidak ada loyalitas dan saling mencintai kecuali sesuai dengan apa yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Misalnya sebagian manusia ada yang ber-hizbiyyah pada kelompok tertentu, mereka mengikrarkan pemikiran kelompok tersebut sebagai manhaj mereka dan untuk melegalkan hal itu mereka berdalil dengan dalil-dalil yang justru sebenarnya menentang mereka. Mereka membela orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut dan menyesatkan yang di luar kelompok walaupun yang di luar kelompok tersebut lebih dekat kepada kebenaran. Mereka memiliki slogan: “yang tidak bersamaku, maka itu musuhku“. Ini adalah slogan yang hina. Karena sesungguhnya ada penengah yang benar antara kedua sisi tersebut. Jika mereka bertentangan denganmu namun di atas kebenaran, maka pada hakikatnya ia bersamamu. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انصر أخاك ظالمًا أو مظلومًا

tolonglah saudaramu yang zhalim dan terzalimi

Menolong orang yang zalim adalah dengan mencegahnya berbuat zalim.

Maka tidak ada hizbiyyah dalam Islam. Oleh karena itu ketika muncul banyak hizb di tengah kaum Muslimin, bermacam-macam manhaj, berpecah-belah umat, jadilah mereka saling menyesatkan satu-sama-lain, saling memakan bangkai saudaranya yang lain, maka mereka akan menemui kelemahan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS. Al Anfal: 46).

Oleh karena itu kita dapati sebagian penuntut ilmu yang belajar kepada salah seorang Syaikh. Kemudian ia membela Syaikh tersebut, baik dalam kebenaran maupun dalam kebatilan. Menentang yang selainnya dan membid’ahkan yang selain mereka. Ia lalu memandang bahwa Syaikh-nya tersebut adalah orang yang alim dan mushlih, sedangkan Syaikh yang lain itu jahil dan mufsid. Ini adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan yang wajib adalah mengambil perkataan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta pendapat para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” [4. Kitaabul Ilmi, 89-91].

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan pernah ditanya: “apakah hizbiyyah itu haram secara dzatnya atau dibolehkan karena adanya sebab lain?” Beliau menjawab: “Berpecah-belah itu tidak diperbolehkan, baik ia dinamakan hizbiyyah atau bukan hizbiyyah. Perpecahan itu tercela dan dilarang oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk bersatu padu.  Maka berpecah-belah itu tidak diperbolehkan, baik ia dinamakan hizbiyyah atau bukan” [5. Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14240].

Al Imam Al Albani rahimahullah ditanya: “apa hukum hizbiyyah dan ahzab dalam Islam?”. Beliau menjawab: “kami katakan dengan tegas bahwa kami memerangi hizbiyyah. Karena hizbiyyah ini akan menerapkan apa yang difirmankan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)

dan karena hizbiyyah tentu akan memecah belah persatuan kaum Muslimin, dan akan menambahkan kelemahan mereka yang saat ini sudah lemah. Maka semakin bertambahkan kelemahan.

Maka tidak ada hizbiyyah dalam Islam. Yang ada hanya satu hizb yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُون

ketahuilah sesungguhnya hizbullah itu adalah orang-orang yang beruntung

Namun siapa hizbullah itu? Mereka adalah jama’ah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Semakin seorang Muslim di zaman ini mendekati petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan manhaj para sahabat sebagaimana dalam hadits firqatun najiyyah, maka ia semakin dalam keamanan. Demikian juga sebaliknya. Dan ini membutuhkan kepada ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Dan inilah (ilmu) timbangan yang pasti bagi setiap Muslim yang berakal agar ia terlepas dari hizbiyyah yang buta dan dari hawa nafsu. Dan hendaknya setiap Muslim mengetahui bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali manhaj para sahabat Nabi kecuali dengan ilmu. Dan orang-orang yang berada dalam kelompok-kelompok Islam atau kelompok-kelompok yang lain semakin mereka dekat kepada ilmu Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia semakin kuat perkataannya dan semakin benar petunjuknya. Demikian pula sebaliknya.


Sumber : Muslim.or.id



Penjelasan Hibiyah oleh para Asatidz


Bincang santai tentang Hizbi






Read More

Metode belajar Tarbiyah, Liqo dakwah hizbiyah


Metode belajar Tarbiyah, Liqo dakwah hizbiyah


Mengenal ciri khas metode Liqo dan Tarbiyah Hizbiyah Harokiyah

1. Sikap mengkecilkan penting nya arti ilmu syarie


Hal ini seperti dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam “Talbisu Iblis“ telah meriwayatkan tentang perkataan Abu Abdillah bin Khafif sebagai berikut : “Bersibuk dirilah kamu mempelajari ilmu dan jangan terperdaya oleh omongan orang-orang sufi. Sesungguhnya aku dulu pernah menyembunyikan tintaku di saku bajuku, dan pernah menyembunyikan kertas dilipatan celanaku. Dulu aku pernah secara sembunyi-sembunyi pergi menuju ahlul ilmi, tetapi jika mereka (kaum sufi -pen) memergokiku, mereka akan menentangku, seraya berkata : “Kamu tidak akan beruntung”.

Seorang Imam tsiqah, Ayub As-Sakhtiyaniy pernah berkata : “Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain ( Sunan Ad darimi )

2. Majelis rahasia / sirriyah


Diantara khas Liqo dan Tarbiyah Hizbi adalah dakwah Sirriyah / sembunyi bunyi dan yang boleh pengajian mereka orang tertentu yang sudah mendapati ta'rif / seleksi awal dan kegiatan tersebut tidak dibuka secara umum sebagaimana Majelis Ulama salaf terdahulu

Imam Ahmad di dalam “Az-Zuhdi” hal : 45. dan Ad-Darimi dalam “Sunannya” (1/19) telah meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz ( Khalifah Bani Umayyah yqng terkenal kesholehan dan kemakmuran Negeri Islam selama beliau menjabat ) bahwa beliau berkata :


إذا رأيت قوما يتناجون فى دينهم دون العامة فاعلم أنهم في تأسيس الضلالة

 “Apabila kamu melihat ada sekelompok orang (kaum) saling berbisik-bisik tentang sesuatu mengenai agamanya, tanpa (melibatkan) orang umum, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka sedang membangun kesesatan”.


Khabar di atas disebutkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam Tablis Iblis. Kemudian dalam Al-muntaqa An Nafis (hal.89), saya memberikan komentar sebagai berikut. “Agama kita (segala puji bagi Allah) adalah jelas lagi nyata, tiada yang tersembunyi, tersimpan, dan terrahasiakan. Maka sesungguhnya apa yang dilakukan oleh kaum hizbiyun berupa hal demikian (sembunyi-sembunyi/berahasia-rahasian -pen), adalah satu pintu kesesatan, wal-iyadzubillah ta’ala.

Namun betapa mengherankannya ketika mereka berdalil tentang sirriyah (kerahasian) yang mereka klaim itu, dengan dalil-dalil Al-Qur’an atau As-Sunnah. Ternyata ketika diteliti dan diperhatikan, tidak ada sedikitpun di antara dalil-dalil itu yang bisa diterima.

Dalil Hizbi untuk mendukung dakwah sirriyah :


Menyembunyikannya Ibrahim ‘alaihis salam, tentang penghancuran patung-patung sebagaimana tersebut dalam surat Al-Anbiya/21 : 62-63.

Menyembunyikannya seorang mukmin dari kalangan keluarga Fir’aun akan keimanannya, seperti tersebut dalam surat Al-Ghafir/40 : 28-29.

Dan kisah-kisah lain tentang orang-orang terdahulu yang termuat di dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka juga berdalil tentang keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada periode Makkah, dengan segala sirriyah yang meliputi da’wahnya.

Begitu pula berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اِسْتَعِيْنُوا عَلَى اِنْجَاحِ حَوَاجِحِكُم بِالْكِتْمَانِ

“Jadikanlah kitman (bersembunyi) sebagai alat bantu untuk mensukseskan apa yang menjadi kebutuhanmu“.

Hadits ini diguanakan sepotong potong maka tidaklah tepat kalau ditempatkan sehubungan dengan permasalahan ini, sebab didalamnya ada satu penggal hadits bagian akhir yang dihilangkan, dan itulah justru yang menjadi tujuan sirriyyah (yang dimaksud oleh penggalan hadits yang pertama) yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

فَاِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُوْدُ

“….Sesungguhnya setiap yang mendapatkan nikmat niscaya ada yang dengki padanya“.

Penggalan terakhir ini memberi penjelasan tentang sisi sebenarnya yang di-istidlal-kan dengan hadits diatas, yaitu bahwa hadits tersebut dengan menyembunyikan (merahasiakan) ni’mat dan tidak menceritakannya, sebab dikhawatirkan akan dijahili oleh orang yang dengki,

Marilah kita renungkan bersama sabda Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semoga Allah memelihara anda.

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ

Sungguh telah aku tinggalkan kamu di atas (hujjah) putih berseri, yang malam harinya seperti siang harinya ; tidak akan menyeleweng darinya kecuali orang yang binasa“
Hadits Hasan, telah saya takhrij dalam Arba’iy Ad-Da’wah wad Du’at, No 6 Nasyr Daar Ibnil Qayyim-Dammam

Sumber : almanhaj

Penjelasan video para Asatidz mengenai Liqo, Tarbiyah dakwah Haroki / Hizbi

Hukum pendidikan Tarbiyah berjenjang ala Hizbiyah


Pembahasan ustadz Dzulqarnain Hafidzhullah mengenai khuruj, liqo dan Tarbiyah  



Tarbiyah / liqo berjenjang untuk pembinaan dan kaderisasi dalam program dakwah ala Hizbiyah oleh ustadz Maududi Abdullah





Read More

Melazimkan istighfar setiap hari


1. Dalil anjuran istighfar 

a. Dimudahkan urusan dan rizkinya

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَ جًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْشُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka“ ( HR. Ahmad, Abu daud, An nasai, Ibnu Majah, Al hakim )

 b. Keuntungan di Hari kiamat

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارَا كِشِيْرًا

“Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak”. [HR. Ibnu majah dengan sanad hasan shahih]


c. Rasulullah SAW istighfar min 100 x sehari

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ


“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)


Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ فِى لِسَانِى ذَرَبٌ عَلَى أَهْلِى لَمْ أَعْدُهُ إِلَى غَيْرِهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-

“Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. Kemudian aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ يَا حُذَيْفَةُ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Mana istigfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya aku selalu beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-Nya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sabda Nabi ‘…إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ’ adalah shohih lighoirihi yaitu shohih namun dilihat dari jalur lainnya yang lebih kuat atau semisal dengannya. Sedangkan sanad hadits ini dho’if)

d. Dalam majelis Rasullullah saw senantiasa beristighfar

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :

كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”

 “Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).

2.   KALIMAT istighfar   


أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ


Astaghfirullâh. HR. Muslim. [3]

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih. HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.[4]


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت


“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. ( HR. Bukhari )


3.   Kisah istighfar menyelesaikan masalah 


Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”.


Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar[10]. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.


اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا


“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai“. [QS. Nuh /71: 10-12]


 


Referensi

https://almanhaj.or.id/3631-istighfar-dan-taubat.html

https://firanda.com/1522-dahsyatnya-istighfar.html

https://firanda.com/1522-dahsyatnya-istighfar.html

https://rumaysho.com/56-nabi-kita-tidak-pernah-bosan-beristigfar.html


 



Read More

Sikap penting terhadap pemerintah sesuai sunnah



Banyak ajakan kebencian yang di dorong oleh hawa nafsu dengan pemikiran yang dangkal mengenai sikap terhadap pemerintah dan kebijakan, sehingga hal tersebut menjadikan topik menarik perbincangan yang mengkritisi pemerintah dalam majelis gosip gosip ala aktivis

Sikap dan topik perbincangan hal tersebut banyak dilakukan oleh pemuda pemuda yang sangat bersemangat dalam  ibadah dan terapan hukum islam di suatu negri hanya saja mereka jauh dari pemahaman ilmu syarie jauh dari para ulama sehingga tersirat mereka menjadi pahlawan kesiangan dengan opini opini hawa nafsu.

Segala bentuk kegiatan dakwah dan diskusi kajian berfokus kepada riak riak kejadian ke kinian yang membuat terjatuh kepada golongan pengikut hawa nafsu tanpa ilmu dan hujjah ilmiah

Semoga Allah lindungi diri kita, keluarga dan saudara dari pemahaman yang menyimpang.

Berikut fatwa ulama sunnah bagaimana sikap kita terjadap pemerintah suatu negeri dengan kebijakan yang diterapkan

A. Syekh Sulaim Ar Ruhaily 


B. Syekh Sholeh Alfauzan 


C. Al hujjah.com


D. Ustadz Dzulqarnain MS ( Bahaya ikut ikutan mencela pemerintah )





Read More

Doa lebih baik dari emas dan perak

 Anjuran doa berikut orang berlomba lomba cari duit emas dan perak kita dianjurkan memperbanyak doa ini









Read More

Contoh landingpage jualan online




Read More

Senam vitalitas pria

Senam Vitalitas Pria


 Senam ali


Tambah senam perut langsing




Read More

Menuntut karena Allah Yuks

 

Read More

Inspirasi Kesuksesan Sales property

 1 Tahun menjual property sebanyak 40 Unit seharga 5 M peruit nya



Bongkar tuntas disini ilmu jualan property




Yuks Gabung Bersama Kami dan dapatkan Materi Training Penjualan Property sampe bisa 


Read More

Buat postingan menarik untuk mencari database

Ide Mencari Database  WhatsApp


Dengan Konten berupa Video, Image dan Konten Menarik kita bisa mendapatkan database dengan lebih tertarget




Read More

Wajib ❗memastikan legalitas tanah aman sebelum beli



Beli tanah yang aman itu keharusan, memiliki asset itu bermula dari membeli dangan benar

Berikut tips aman beli tanah


Semoga bermanfaat jangan lupa like dan suscribe ya..
Read More

Supaya gak ketipu begini tips beli tanah


Banyak yang beli tanah eh ujung nya ketipu
Supaya gak hilang dana tabungan gara gara beli tanah untuk investasi

Cek tips berikut ini mudahan manfaat ya gan


Read More